Bandung dan kenangannya.
Bandung,
Apakabar?
Awal tahun kemarin, kita sudah bersua. Rasanya baru
kemarin, aku membeli beberapa lembar tiket kereta api tujuan stasiun
Kiaracondong. Tiketnya untuk aku dan beberapa temanku.
Bandung,
Menjadi destinasi backpacker kami yang pertama.
Hanya bermodal kenekatan, kami memulai perjalanan pertama
kami.
Bandung,
Kamu penyihir.
Bandung,
Sudut-sudut kotamu melukiskan kenangan indah untuk kami.
Terutama aku.
Bandung,
Lembang yang menusuk rusuk dengan udaranya,
Ciwidey dengan kabut manjanya,
Rancaupas dengan camping dan rusanya,
Alun-alun kota dengan keramainnya,
Braga dengan jalanan yang menakjubkan.
Bandung,
Mungkin baru beberapa langkah saja kamu sudah sukses membuat
aku ingin kembali lagi dipangkuanmu,
Menelusuri tempat-tempat yang masih tersembunyi.
Bandung,
Kamu hebat.
Sekarang aku tahu,
Kenapa kamu begitu istimewa.
Kenyamananmu memeluk tiap-tiap insan, hingga sukses
membuat beberapa insan akhirnya meringkuk manja tanpa mau melepasmu.
Bandung,
Aku harap kamu baik-baik saja,
Dan akan selalu baik-baik saja.
Di tengah pandemi yang sangat bangsat ini,
Merindukanmu adalah hal paling menyakitkan,
Karena,
Karena aku tidak bisa berlari kembali kepelukanmu
Tetapi,
Ini hanya sementara.
Aku janji,
Ini sementara,
Sehingga secepatnya aku akan kembali.
Kembali memelukmu
Kembali kepangkuanmu
Kembali menelisik sudut kotamu
Bandung,
Sang pemberi nyaman.
Aku merindukanmu.