Pengen liburan tapi nggak punya uang:(
Pengen liburan tapi sama siapa ya?
Pengen liburan tapi kemana ya?
Ah tapi nggak deh, belum punya duit, besok aja ah kalau udah kerja, udah punya duit sendiri.
Kalimat-kalimat itu tuh yang bikin anak-anak muda nggak berani buat travelling. Padahal, pas udah nyobain, dijamin ketagihan. Awalnya aku juga gitu, tapi semua terpatahkan ketika akhirnya bermodal kenekatan aku dan temen-temen berangkat ke Bandung dengan budget yang super tipis!
4 hari 3 malam yang super mengesankan. Bikin pengen lagi dan lagi alias ketagihan. Aku dan 7 orang temanku berangkat ke Bandung di awal tahun 2020. Bulan Januari lebih tepatnya. Bermodal "katanya" dan berbagai rekomendasi dari teman-teman yang sudah lebih dulu pernah melakukan perjalanan ke Bandung, kami memberanikan diri untuk GAS GA PAKE REM langsung pesen tiket kereta dan GAS 3KG ke Bandung.
D-1 : hari keberangkatan.
Kami berangkat dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta sekitar pukul 11.00 malam. Kami memilih kereta api ekonomi paling murah, 80 ribu saja. Sampai di Bandung sekitar pukul 07.00 pagi. Kami turun di Stasiun Kiaracondong. Setelah itu, kami mencari pom bensin terdekat untuk mandi dan bersih-bersih. Nah, pom bensin ini cukup dekat dari stasiun. Temen-temen cukup jalan keluar dari stasiun lalu belok ke kanan jalan sebentar, lihat sebelah kiri akan ada pom bensin kecil yang bisa temen-temen singgahi untuk mandi dan bersih-bersih. Untuk menghemat waktu, ke-4 laki-laki di trip kami mandi terlebih dahulu. Oh iya, kami berangkat ber-8 yang terdiri dari 4 laki-laki dan 4 perempuan. Setelah ke-4 laki-laki tsb mandi dan bersih-bersih mereka bergegas mengambil motor rental yang telah kami pesan sebelumnya. Biaya rental motor kami 50.000/hari. Cukup murah bukan? yaps. Tapi agak sedikit mengecewakan karena keadaan motor yang tidak terlalu enak saat dipakai dan helm yang ya begitulah. Tapi buat kami yang budgetnya mepet, its okey lah ya. Nah setelah mereka mengambil motor dan menjemput kami kembali di pom bensin tempat bersih-bersih, kami memutuskan untuk makan. Kami makan di warteg dengan budget yang super tipis juga, hehe. Sekitar 5.000/orang untuk makan pagi sekaligus siang kita.
Nah, setelah cukup beristirahat di rumah salah satu saudara dari kami ber-8, kami melanjutkan perjalanan pertama ke Lembang. Aduh super cinta sama Lembang. Udaranya super sejuk. Anginnya super seger. Pepohonan yang rindang cukup menjadi suguhan hari pertama yang menyenangkan. Kami berhenti di Farm House Lembang. Membayar tiket sebesar 30.000/orang dengan susu gratis langsung dari sapinya. Setelah puas bermain di Lembang, kami memutuskan untuk check-in di penginapan yang telah kami pesan melalui Ag*da. Penginapan ini super menyenangkan. Waktu itu kami mendapat harga sekitar 135.000/kamar, dimana perkamar dihuni 4 orang, maka budget per orang sekitar 34.000 untuk malam pertama. Kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Lalu, di malam harinya, kami keluar mencari makan dan sekedar mengelilingi Bandung. Kami makan di pinggiran menuju Dago. Mie kocok dengan harga 10.000/ mangkok menjadi pelipur lapar kami. Setelahnya, kami memutuskan untuk ke Dago. Makan lagi, hehe. Ada abang-abang yang berjualan cuanki, dan plis itu enak banget! harus coba. INGAT : ABANG-ABANG YG BERKELIARAN DAN BIASANYA DIPANGGUL GITU JUALANNYA. Harganya 10.000/mangkok kalau pakai mie. Kami sih hanya membeli 2 mangkok untuk ramai-ramai. okai setelah itu kita pulang:)
D-2 : Braga dan Asia-Afrika
Bangun pagi di Lembang disambut dengan bubur ayam adalah perpaduan yang super menyenangkan. Sayangnya, aku lupa berapa harga makan pagi kami waktu itu:(. Kita anggap 10.000 deh yah, pokoknya enggak mahal kok. Nah setelah makan, kami beberes dan check out. Nggak afdol rasanya kalau ke Bandung tapi nggak merasakan Mall hits Paris Van Java itu. Kebetulan, dari penginapan kami ke PVJ cukup dekat. Kami mampir ke PVJ dan hanya berjalan-jalan saja melihat PVJ dan kehitsannya itu. Setelah cukup menyusuri PVJ, kami beranjak menuju Braga Street. Yaps, berjalan-jalan di jalanan Braga super seru. Itung-itung bisa sambil foto-foto gitu deh ala ala street photography, ahay. Hari ke-2 ini kita explore Braga street, Asia-Afrika, dan jalanan sekitarnya.
Setelah puas berjalan-jalan dan befoto ria di jalanan Braga, sorenya kami lanjut menuju ciwidey. Kenapa sore? karena pagi-paginya kita mau ke Rancaupas, teman-teman. Jadi, kita memutuskan untuk menginap di Ciwidey dan paginya bisa menikmati dinginnya Rancaupas bersama rusa-rusa lucux. Di malam harinya kami sempat makan di salah satu rumah makan kecil di pinggir jalan. Cukup 12.000/orang kami sudah bisa merasakan perut yang full kembali. Hehe. Dikarenakan penginapan yang tidak banyak, harga penginapan disini lumayan mahal untuk kualitas yang pas-pasan. Kami cukup sakit punggung di penginapan hari ke-2 ini. Sekitar 150.000/kamar super kecil dengan kasur super kecil yang hanya muat 2 orang sedangkan kami harus sempit-sempitan 4 orang:( Jika dikalkulasi sekitar 37.500/orang. Dengan harga 37,5k dengan fasilitas yang super minim makanya aku bisa bilang penginapannya mahal:( but still ok karena kita bareng-bareng. Susah seneng yang penting bareng deh aseeek.
D-3 : Rancaupas dan kerinduan pada Braga
Pagi hari di Ciwidey super dingin. Kami mandi dengan air hangat yang kebetulan di penginapan memang disediakan water heater. Kalau enggak ada, dijamin kami semua nggak mandi hehe. Sampai di Rancaupas kami harus membayar 30.000/orang untuk bisa masuk ke area rusa-rusa lucu. Kami berfoto dan cukup menikmati pemandangannya. Oh iya disana ada camping groundnya bagi temen-temen yang siapa tahu mau ngecamp aja gituh. Setelah puas bermain sekandang dengan rusa, kami mencari makan. Ada dua pilihan, cuanki dan bubur ayam. 10.000 untuk cuanki dan lupa lagi nih harga si bubur ayam, hehe. Setelah itu kami menuju kawah putih di ciwidey. Yang ini sih paling mahal diantara semua yang kami kunjungi. 75.000/orang. Karena sudah telanjur ke loket yasudah mau nggak mau kami harus mau, hehe. Tapi seru juga sih, karena di Jogja nggak ada dan ada transportasi khusus untuk mencapai kawah, yaitu dengan angkot mini. Ini sih yang asik. Kawah putih ya gitu-gitu aja. Khas dengan belerang dan pemandangan kapurnya.
Puas di kawah putih, kami turun menuju pusat kota dan check in hotel untuk kemudian istirahat. Hotel yang kami pesan masih di Ag*da karena banyak promo menarik dan tentunya membuat si harga hotel lebih murah. Lagi-lagi kami mendapat harga sekitar 133.000, berarti sekitar 34.000/orang. Kami makan padang di depan hotel kami. 12.000/2 orang. Nasinya banyak banget jadi kami memutuskan untuk membeli sebungkus untuk 2 orang. Tentunya agar lebih murah juga, hehe. Jatuhlah harga makan siang kali ini 6000/orang.
Setelah makan kami memutuskan untuk istirahat di hotel saja baru malamnya keliling-keliling Bandung. Tiba di malam hari, yang mana adalah malam terakhir kami di Bandung, kami memutuskan untuk membebaskan tiap orang untuk pergi ke tempat yang mereka inginkan. Namun, balik lagi kami jadi tetap pergi bareng karena memang nggak ada yang mau disamperin juga sih, hehe. Karena rindu pada Braga dan keinginan kuat untuk makan seblak di Bandung, saya dan beberapa teman berangkat ke Braga. Di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk pergi ke jalanan dekat Konferensi Asia Afrika karena ternyata disana ada lokasi yang menyediakan seblak dan bisa berjalan-jalan malam gitu deh. Petualangan pencarian seblak berakhir di KAA dengan rasa yang super enak, menurut kami. Malam itu, kami hanya menghabiskan waktu untuk berkeliling Bandung, packing, dan bersenda gurau di Hotel. Selebihnya kami tidur.
D-4 : Thrifting dan kerinduan pada Bandung
Di hari ke-4 ini, sewa motor kami kebetulan habis di pagi hari. Beruntungnya, ada salah satu kerabat dari teman kami yang meminjamkan mobilnya untuk kami. Berkat mobil tersebut, kami bisa thrifting di Gedebage. Teman-teman yang mau thrifting bisa banget nih kesini. Menurut kami sih masih murah dan cukup lengkap. Pulang dari Gedebage kami menyempatkan untuk ke alun-alun Bandung yang kala itu dipenuhi pengunjung untuk solat di Masjid samping alun-alun dan kemudian memutuskan berjalan-jalan sebentar di area dekat alun-alun.
Kemudian, sorenya, kami harus meninggalkan Bandung dan menyimpannya sebagai kenangan. Perjalanan tersebut membuat kami semakin ketagihan dengan travelling low budget. Semoga Corona segera hilang agar kami bisa kembali lagi menikmati travelling low budget ke daerah-daerah lain.
Tulisan ini dimaksudkan untuk menyimpan kenangan dalam bentuk tulisan agar kenangan tersebut menjadi abadi. Selain itu, apabila teman-teman tertarik melakukan travelling low budget seperti kami, bisa juga nih teman-teman menjadikan reverensi pengalaman kami.